A Kwang

Masih teringat waktu aku masih sekolah SMP dulu. Seorang pria bermata sipit duduk dibelakang bangkuku. Sedikit kurus rambut lurus agak jingkrak. Suka iseng menarik narik kepang rambutku. Kadang nakalnya kumat menarik tali braku, kemudian melepasnya. Aku sewot manyun, kamu nakal! Teriakku sambil melempar penghapus papan tulis. A Kwang sudah keterlaluan menggangguku. Dia hanya tertawa tawa, puas! A Kwang juga suka menggangguku saat belajar di kelas, menarik bukuku, menyontekku saat ujian, meminjam pe er ku. Uhh…A Kwang kamu pemalas!
Tapi hanya A Kwang yang mau membawakanku kue bulan saat Imlek tiba. Buat kamu, karena kamu manis, kata A Kwang. Gombal anak abege jaman dulu. Hanya A Kwang pula yang mau bercerita denganku saat istirahat kelas. A Kwang memang kocak, suka cerita kejadian kejadian lucu yang di alaminya. A Kwang juga yang mau menemaniku bermain, berlari larian di halaman sekolah. Sampai kami kelelahan duduk berdua di bawah pohon akasia disudut taman sekolah.
Nih, kubelikan kamu es limun, biar ga haus, kata A Kwang menyodorkan plastik tanpa sedotan. Minum saja dari plastiknya, kata A Kwang. Akupun menuang isi plasik kemulutku dengan ternganga. Bukan A Kwang namanya kalau ga iseng, didorongnya plastik itu ke depan dengan telapak tangannya, tumpahlah isinya membasahi wajahku. Aku megap megap! A Kwaaaaaaaaang, teriakku sambil mengejarnya. A Kwang hanya tertawa tawa melihatku kesal dan ngambek ga mau pulang bareng lagi.

Semua itu telah berlalu, aku tak lagi bertemu A Kwang sejak SMA. Aku pindah kota ikut orangtua. Kabarnya kudengar A Kwang tak meneruskan sekolahnya. A Kwang harus membantu orangtuanya menjaga Toko Elektronik mereka. A Kwang memilih berbisnis meneruskan usaha orangtuanya. Untuk apa sekolah tinggi tinggi, yang penting itu usaha duit banyak, kata Akwang saat kami berpisah. Aku tak pernah mengerti saat itu. Ketika A Kwang berkata, jika kamu kembali ke kota ini, singgahlah lagi di tokoku. Aku akan tetap disini, tak kemana mana.

Kenangan akan A Kwang selalu memenuhi pikiranku setiap menjelang Imlek. Tak ada lagi kue bulan yang semanis aku. Semanis persahabatanku dengan A Kwang. Setiap aku belanja ke pasar Glodok, aku selalu teringat A Kwang. Ah, dimana dia kini, kemana aku mencarinya?Aku tak lagi pernah kembali ke kota kecil kami dulu. Koleksi DVD Jet Lee selalu kulengkapi untuk memuaskan rasa rinduku pada A Kwang. Tak mengapa tak ketemu A Kwang setidaknya wajah Jet Lee sudah mewakilinya, hehehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s