Emilio

Dulu sewaktu saya masih SMP saya punya sahabat dengan nama belakang Emilio, saya memanggilnya singkat saja “eM”. Meskipun M lebih tua dari saya tiga tahun, kami bersahabat dekat sekali, kami saling panggil nama layaknya seperti sebaya. Kami bertetangga di jalan yang sama di kota kami. Banyak hal yang tak bisa saya lupakan dr M ini. Setiap malam minggu tiva, kami sering ngobrol rame rame bersama sahabat lainnya, sampai larut malam. Pernah sekali waktu saya asyik ngobrol sampai malam, saya dijemput paksa oleh orangtua saya, hehehe…
Kami memang sangat dekat, termasuk keluarga kami sudah saling kenal lama. Jika Desember tiba, kami disibukan dengan acara natal tahunan antar kampung. Atau jika malam tahun baru tiba, kami habiskan waktu bersama sampai pagi ke taman bunga. Moment inilah selalu membekas di hati kami. Sampai M akhirnya masuk kuliah dan saya tinggal di kota kami tetap. Giliran saya sudah masuk kuliah, M susah bekerja di salah satu perusahaan pulp di daerah pada saat itu. Namun jika ada kesempatan bertemu, kami masih sering ketemu dan menyempatkan diri ngobrol, seperti kami masih sekolah dulu.

M sangat terbuka bercerita soal teman perempuannya, beda dengan saya yang sedikit tertutup dalam hal ini. Tak lama bekerja , M memutuskan untuk menikah dengan seorang wanita pilihannya. Saya diundang, dan saya datang pada saat itu dengan sebuah kado. Sayangnya saya tak sempat bersalaman dengan sang pengantin karena saya datang kemalaman, waktu itu kami berada di kota yang berbeda. Kado itu hanya saya titipkan pada orangtua M. Saya benar benar tak pernah bertemu M lagi sejak itu. Bahkan di hari pernikahannya.

Lima belas tahun kemudian, rupanya M masih mencari saya. Dia menemukan saya di dunia maya. Kami pun saling sapa dan saling tukar nomor hape. Banyak yang M ceritakan tentang kehidupannya, terutama soal istrinya yang saat itu sedang sakit kritis. Ketika saya tanya kenapa dia masih mencari saya, M menjawab dia tak pernah lupa cara saya tertawa, hahaha…***suka ngakak soale! Dan satu hal adalah, M butuh teman bicara, sahabat yang mau mendengarkan keluh kesahnya. Itu saya!Kamipun saling komunikasi hampir selama setahun, kembali ke masa masa remaja dulu, saling bercerita. Dalam masa itupun saya mendengar kabar bahwa istri M akhirnya berpulang akibat sakit yang di deritanya. Sebagai sahabat saya sangat merasakan kesedihan M.

Selang setelah itu, oleh karena kesibukan kami masing masing, terutama saya, menurut M saya hidup terlalu sibuk tepatnya sok sibuk sih, hehehe…kami tak lagi saling berkomunikasi. Perlahan M menghilang kembali dari dunia saya, sampai terakhir dia memberi kabar bahwa dia sudah menikah lagi! Komunikasi kami benar benar putus lagi untuk kedua kalinya, hiks 

Entah kenapa, kemarin saya membuka salah satu media sosial saya, yang tak pernah saya buka sejak saya aktifkan. Ada nama Emilio di sana. Dia muncul lagi. Inilah tahun kedelapanbelas saya tak pernah bertemu M sama sekali secara nyata. Saya tak ingin menjalin komunikasi lagi hanya untuk mendengar dia akan menikah untuk ketiga kalinya? Meskipun saya pulang ke kota kami dan saya sering melintasi rumahnya, tak terbersit di hati saya untuk menanyakan kabarnya lagi. Meskipun M selalu mencari saya.

Tapi kini entah kenapa pula saya tiba tiba teringat M, apa kabarmu sekarang Emilio? Satu hal yang tak bisa saya dustai, bahwa kita sangat bersahabat dekat sekali, saya itu datangnya dari hati. Hati saya dan hati Emilio.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s