Ketika Bang Tigor Galau

Sudah hampir sebulan ini Butet tak bertemu Tigor, jangankan batang hidungnya, suaranyapun tak terdengar. Seperti hilang di culik alien! Berkali kali butet memeriksa sms, inbox atau email tak ada pesan disana. Hapenyapun tak pernah aktif, YM, Twitter, fesbukpun tak ada menunjukkan aktivitas terbaru. Kemana kau bang Tigor? Butet mulai bertanya tanya dalam hati. Resah! Aku harus segera menemuimu! Butetpun mengambil keputusan, bergegas pergi kerumah kontrakan Tigor kekasih hatinya selama setahun terakhir ini. Tapi kemana? Tigor tak pernah memberitahu alamatnya yang jelas. Jangan jangan alamat palsu, nanti aku kesasar pula, batin Butet berbisik.

Malam minggu mendadak menjadi selalu kelabu bagi Butet, biasanya ada tawa canda Tigor di ujung telephone, atau sms gombal lebay, atau hanya sekedar jalan berdua di sepanjang trotoar kota sambil gandengan tangan…hm romantisnya. Tukang bakso lewatpun tak lagi dihiraukan! Tapi kini semua itu seakan menjadi kenangan tak terlupakan. Tapi kenapa Tigor menghilang begitu saja? Apa sebabnya? Mungkinkah karena aku pernah menyinggung soal pernikahan?Ah, Tigor juga ga bilang kok kalau dia menolak akan melamarku, bahkan sepertinya Tigor sudah mempersiapkan arah ke sana. Butet mencoba menghibur diri sendiri. Langkah kakinya terus tak henti,sampai terdengar suara nyanyian, suara yang Butet kenal betul. Butet mengarahkan pandangan matanya ke sekitarnya.

Nah, itu dia asalnya suara itu. Di perempatan jalan dari sebuah lapo tuak dibawah rerimbunan pohon yang didepannya ada tambal ban. Butet berjalan mendekat, bibirnynya tersenyum lega. Orang yang sedang dicarinya, bang Tigor sedang memainkan gitar sambil bernyanyi. Marmitu sambil marlissoi. Bah,di sini kau rupanya! Tanpa rasa malu Butet masuk ke sana di antara ramainya tetamu lapo yang sedang asyik dengan mendengarkan Tigor bernyanyi. Ueeee…Tigor kaget begitu melihat Butet hadir disana, sontak dia menghentikan gitarnya dan nyanyiannya. Tigor menarik tangan Butet keluar…

“Bah, Tet…kenapa kau cari aku kesini, apa kau tak malu?”Tanya Tigor dengan raut wajah serius dahi berkernyit.” Kok dia tahu aku di sini ya,” hati Tigor bertanya.

“ Tak sengaja bang, tadi aku lewat sini, kudengar seperti suaramu…” jawab Butet sambil tertunduk, takut kalau kalau Tigor marah karena dikira telah mengintainya. Berdua mereka duduk di kursi panjang di samping lapo itu dibawah rimbunnya daun pohon ceremai.” Kau tak ada kabar sebulan ini bang…”lanjut Butet lagi. Tigor menghela nafas mencoba menenangkan diri membersihakan pikirannya yang lagi galau.

“Begini ya Tet, aku bukannya menghilang apalagi diculik alien! Aku lagi ada masalah besar ini, sebulan lalu aku menabrak motor dan aku terpaksa ganti rugi, mana pula SIM aku sudah mati. Angkotku disita sama juraganku Tet! Angkot itu akan dijual karena rusak bekas tabrakan, mana pula BBM akan naik nanti. Juraganku babeh Tohir terpaksa mau menjual saja angkot itu karena tak mau menanggung kerugian yang lebih besar kalau ga dapat setoran. Sudah sebulan aku tak bayar kontrakan Tet, makanya aku hidup hanya menumpang dirumah teman. Aku memutuskan akan pulang kampung saja ke Laguboti, aku akan bertani saja! Soal hubungan kita, aku minta maaflah kalau aku tak kasih kabar berita, aku takut menyakiti hatimu dan menganggu pikiranmu.”

Butet hanya terdiam sambil menelan ludahnya dikerongkongannya yang kering. Hatinya tercekat. Pikirannyapun ikut menjadi galau. Tigor akan memutuskan hubungan mereka?”Oh…aku belum siap, “ teriak bathin Butet.

“Tapi begini Tet, kalau kau memang cinta sama aku, ikutlah aku pulang ke kampung, kita menikah disana, hidup bertani, orangtuaku masih punya sawah yang bisa kita olah, bagaimana Tet?” tanya Tigor mendesak.

“Pulang kembali ke kampung?Oh…tidak! aku sudah meninggalkan kampungku Samosir karena sulitnya hidup bertani disana, sekarang aku sudah ada pekerjaan meskipun hanya kerja kantoran staff rendahan. Sekarang aku harus kembali lagi demi mengejar cinta Bang Tigor?” bathin Butet berkecamuk. Dia harus memilih.

Sekarang tak lagi hanya Tigor yang galau, Butetpun tertular menjadi galau! Berdua mereka menghabiskan waktu hingga larut malam, membicarakan akan nasib masa depan mereka. Semoga kau tak sedang mabuk Tigor, bisik hati Butet, karena tercium bau aroma tuak dari mulut Tigor. Kekasihnya yang sekarang jadi pengangguran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s