Menanti Bang Tigor

Sepulang kerja Tiur langsung menghempaskan tubuhnya di atas springbed. Tatapan matanya ke langit langit kamar, kosong! Pikirannya entah ke mana. Beberapa hari terakhir ini sangat membuatnya keletihan. Lelah berpikir tak menentu, Tiur bangkit kemudian membersihkan wajahnya.Segar. Dibukanya laptop dan YMnya, tak ada pesan disana. Seseorang yang diharapkan muncul masih saja Offline, ataukah sengaja invisible?Tanya hati Tiur, gundah gulana. Tiur hanya mondar mandir saja di ruang kamarnya. Tiba tiba dia merasa hidupnya menjadi sangat membosankan. Ajakan temannya untuk ikut fitness tak digubrisnya. Pun tawaran diskon di mall tak menarik perhatiannya lagi. Tiur tak bergairah, tak bersemangat. Libidonya tak lagi meraung raung.

Sejak Tigor kekasihnya pulang kampung ke Laguboti seminggu menjelang Natal, nyaris mereka putus komunikasi. Sekali Tigor pernah SMS isinya bahwa dia sudah sampai di Medan dengan selamat. Selebihnya hape selalu tidak aktif yang dijawab seorang perempuan bernama Veronika.Uhh…Tiur mulai kesal.Atau jangan jangan hape hilang di copet di Medan, dan Tigor kehilangan nomornya. Atau mungkin Tigor sudah dijodohkan dengan paribannya si Rugun teman SMAnya dulu? Atau Tigor tak punya ongkos pulang lagi ke Jakarta, yang ini jelas tak mungkin! Tigor adalah pengusaha muda bergerak dibidang rental mobil dan bengkel mobil. Kata hati Tiur menghibur dirinya. Tiur juga coba mericek fesbuk Tigor, last update 3 minggu yang lalu, hadehh…

Dimanakah kau Tigor, di dunia nyata maupun dunia maya tak kutemukan kau. Tiur mulai menulis dicatatannya. Segala kerinduannya, kegelisahannya, kebosanannya. Semua ditumpahkannya tulisan demi tulisan sampai tiba tiba pintu kamar diketuk.Tok tok! Dengan bermalas malasan Tiur bangkit dari duduknya, membuka pintu kamar..ahaay…Tigor berdiri di depa n pintu dengan setangkai bunga mawar ungu. Kaukah itu Tigor, teriak Tiur kegirangan meloncat kepelukan Tigor. Aku kangen, katanya lagi.Mereka berpelukan penuh gairah, saling melepaskan rindu dan baju. Udara di ruangan menjadi panas oleh deru nafas mereka. Tiur merasakan keringatnya mulai berjatuhan, panas! Tigor memeluknya sangat erat sampai Tiur menyentaknya kuat. Tiur terbangun…ah rupanya hanya mimpi. Oh..Tigor kau hanya hadir dalam mimpiku, besok aku masih akan tetap menantimu. Tiurpun terlelap lagi di antara tulisan tulisannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s