Bali, Im not In Love!

Bali, Im not In Love!

Chapter one: Pantai Kuta

Limabelas menit lagi pesawat akan mendarat di Bandara Ngurah Rai. Demikian sang pilot mengudara lewat pengeras suara yang terdengar di seluruh ruangan penumpang. Semua penumpang dimohon bersiap siap merapikan meja lipat, duduk pada kursi masing masing dan menggunakan sabuk pengaman. Pramugari juga terlihat mondar mandir, membantu para penumpang kembali ke posisi semula, karena pesawat akan segera mendarat! Termasuk Riyanti juga sibuk merapikan baju, rambut, dan dandanannya. Lewat kaca bedak padat miliknya , disapunya wajahnya dengan tissue basah supaya tak terlihat berminyak, dan kusut!Dipolesnya tipis bedak warna kuning gading merata di wajahnya tak lupa sedikit sapuan perona pipi ,dan memulas lisptick merah bata di bibirnya supaya tak terlihat pucat! Rambutnya dibiarkan tergerai Setelah yakin dandanannya rapi dan cantik, dia duduk menyandar sambil menarik nafas dalam dalam. Riyanti mencoba menenangkan debaran jantungnya. Hm, sebentar lagi aku akan ketemu dia, gumamnya sambil tersenyum tipis. Aku harus terlihat tenang, tidak grogi, ayolah berhenti memikirkanyang tidak tidak, bujuk Riyanti pada sel sel otaknya! Pikirkan yang indah indah saja, yang positif, jangan tegang! Bujuknya lagi. Kamu akan ketemu pria ganteng bukan monster! Ayolah, Riyanti bercakap cakap dalam hati pada dirinya sendiri.

Pantai Kuta indah

Pesawatpun mendarat dengan mulus. Satu persatu penumpang turun, Riyanti juga. Begitu keluar dari pintu pesawat, Riyanti terpesona dengan matahari yang mulai turun di ujung laut pantai Kuta. Bali, inilah Bali! Decaknya terkagum kagum, belum pernah dia menginjakkan kaki di sini, inilah yang pertama, atas undangan sepupunya, Yetty!Dan sebuah misi khusus, ya sebuah tujuan masa depan! Walaupun sebenarnya ada keraguan di hati Riyanti untuk misi khusus ini. Tapi demi kasihnya kepada Yetty sepupunya, yang telah merancang semua misi ini, Riyantipun akhirnya berangkat ke pulau Dewata ini. Semoga tujuan baik ini, hasilnya baik! Harapnya dalam hati.

Di terminal kedatangan sudah banyak penjemput yang celingak celinguk melihat para tamunya. Riyanti berjalan dengan tenang keluar ruangan, sambil menarik tas dorongnya. Matanya mulai jelalatan ke sana ke mari, tak ditemukannya penjemputnya, Yetty! Hm, mungkin dia telat,macet! Pikir Riyanti, tapi ini kan bukan Jakarta dan ini hari Minggu, masa sih macet, Riyanti mulai gelisah!Dan Yetty tak mungkin lupa kalau hari ini aku akan ke Bali, gumamnya lagi.

Baru saja Riyanti berniat menghubungi sepupunya itu, ketika terdengar teriakkan dari ujung koridor, seorang wanita muda berlari lari dengan tangan melambai, senyumnya pun merekah dengan dua lesung pipitnya. Itu Yetty, sepupunya! Tak lama mereka berpelukan sambil tertawa ceria. Lama mereka tak berjumpa sejak Yetty di tempatkan tugas di Bali dari hotel tempatnya bekerja, dan akhirnya Yetty menikah di sini menetap di Bali bersama suaminya Bonar, seorang guide!Masa itu k urang lebih 5 tahun! Pelukan merekapun sangat erat saling melepas rindu, mereka bagaikan saudara kandung, saling mengasihi!

“Kenalkan ini suamiku, bang Bonar!” kata Yetty setelah mereka saling melepaskan pelukan.”Dan ini, bang Torro, lengkapnya Lamtorro!”lanjutnya lagi sambil tersenyum pada kedua pria disebelahnya. Riyanti menjabat tangan keduanya erat,”Riyanti,” sebutnya! Dan ketika matanya bertatapan dengan Torro,ada sedikit pandangan tak ramah di sudut mata pria itu dan senyum simpulnya!Angkuh! Pria berperawakan tinggi sekitar 175cm, dengan kumis dan dagu bekas cukuran, menyambut tangan Riyanti, tanpa membuka kacamata hitamnya,”Torro,”sebutnya datar tanpa ekspresi!

“Nah, supaya tak membuang waktu, baiknya kita langsung berangkat saja ke Kuta! Tas kamu bisa ditinggal dulu di mobil, mumpung cuaca bagus buat Sunset, kita nongkrong saja dulu di pantai Kuta. Nanti malam baru kita cari hotel tempatmu menginap,bagaimana?” tanya Yetty bersemangat, mencairkan kekakuan diantara Torro dan Riyanti.

“Ok, yuk! Aku sudah tak sabar melihat keindahan sunset di Kuta!’ sambut Riyanti semangat. Tak memperdulikan lagi pria angkuh dihadapannya. Riyanti tak mau kehilangan sukacitanya hanya karena senyum tak ramah dari pria ini. Ya pria inilah yang pernah dijanjikan Yetty untuk dikenalkan kepadanya. Ceritanya sepupunya itu mencoba menjadi makcomblang antara Riyanti dan Torro!

Di Pantai Kuta, yang tak terlalu ramai itu,kebetulan ini memang bukan musim berlibur, mereka menghabiskan waktu sore menjelang malam. Deburan ombak yang lembut menjilati pantai, menemani matahari turun ke peraduannya. Sore itu menjadi jingga yang indah. Riyanti benar benar menikmati pemandangan alam ini, yang tadinya hanya dilihat dari gambar gambar Pantai Kuta dan cerita teman temannya yang pernah ke sini. Mereka asyik bercerita, sesekali terdengar tawa Riyanti dan Yetty! Torro dan Bonar hanya duduk duduk saja di pasir, tak banyak mereka bercerita. Sekali mata Riyanti beradu dengan Torro yang mencuri pandang ke arahnya, tanpa senyum! Ugh,pria angkuh! Rutuk hati Riyanti, tanpa menunjukkan diwajahnya, dia tetap ceria! Ya, pantai Kuta nan elok, mengalahkan kegelisahan hati Riyanti terhadap pria yang tak ramah ini. “Kita lihat besok, apakah kamu akan bertahan dengan senyum angkuhmu itu, bisik hati Riyanti. Kamu belum mengenal aku, wajarlah tak mengapa!” Riyanti mencoba menghibur hatinya.

Chapter Two: Dari Bedugul Ke Ubud

Riyanti sudah bersiap siap untuk perjalanan hari keduanya. Kali ini dia akan berdua dengan Torro, karena Yetty sepupunya harus bekerja, juga suaminya. Di lobby hotel dia sudah menunggu sedari tadi, tapi pria yang akan menemaninya hari ini belum juga tiba. Rencana hari ini mereka akan menghabiskan waktu berdua saja, sekaligus tahap pendekatan! Begitu kata Yetty. Sambil menunggu kedatangan Torro, sekilas Riyanti mengulang kembali bagaimana Yetty sangat ingin mempertemukan dirinya dengan Torro di Bali ini.

Riyanti baru saja menyelesaikan saat teduh malamnya, ketika handphonenya berbunyi, dari Yetty.

“Hi, Yanti sayang, apa kabarmu?”Terdengar tawa Yetty dari sana serta merta, ketika hubungan tersambung. “Aku ada kabar baik loh buatmu, aku mau mengenalkanmu dengan sahabat baikku, sepertinya kalian cocok deh! Kamu kan periang dan ramai, dia sedikit pendiam, jadi pas lah!” Celoteh Yetty mempromosikan sahabatnya.

“Ah, kamu bisa aja deh!” Kok, bisa bisanya kamu bilang cocok, kamu kan tahu aku pemilih dan sulit membuka hati pada pria saat ini.” Jawab Riyanti, ragu!

“Dont worry, darling! Dia ini teman baik suamiku juga, mereka sama sama guide, pokoknya masa depan cerahlah! Lagipula, ongkos ,tiket, serta biaya akomodasi kamu pasti terjamin deh! Kamu tinggal datang ke sini buat berkenalan, nanti aku yang atur semua, Ok?”

Tiba tiba lamunan Riyanti terhenti, ketika tiba tiba seorang pria duduk di sebelahnya, Torro! Duduk tanpa menyapa dulu! Huh, sombongnya! Bikin kaget saja. Gerutu hati Riyanti, tapi sambil tersenyum ke arah Torro.

“Hi, aku tak melihatmu datang!” sambut Riyanti mencoba ramah.

“Kamu pakai gaun? Hm, kita naik motor bukan mobil, ganti bajumu dengan lebih santai dan praktis, jangan lupa bawa jaket” kata Torro seperti memerintah Riyantin. Dahi Riyanti berkerut, belum sempat dia angkat bicara, Torro sudah berbunyi lagi. “ Aku tak bisa menunggu lama, sudah siang. Matahari panas tidak bagus buat kulit!”

Tak ingin berdebat , Riyanti kembali lagi ke kamar hotel. Mengganti gaunnya dengan celana jeans dan tanktop plus jaket! Sendal bertumit 7 cm nya pun turut diganti dengan sepatu kets. Kemana dia akan membawaku jalan hari ini. Kenapa tidak bilang dari kemarin, jadi tidak bolak balik ganti baju begini. Riyanti hanya bisa ngomel di hati. Aneh benar sih orang itu, bisa bisanya Yetty mengenalkanku denga pria batu seperti dia! Riyanti tarik napas sejenak kemudian keluar menemui Torro di luar lobby yang sudah menunggu dengan motor bebek! Alamak,keliling Bali naik bebek?

Mereka pun berboncengan, entah kemana Riyanti tak tahu, dan tak ingin bertanya takut di bilang bawel! Sampai di suatu tempat, seperti danau, latar belakang gunung dan ada Pura di sana.

“Ini Danau Beratan, terletak di kawasan Bedugul, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Berada di jalur jalan provinsi yang menghubungkan Denpasar – Singaraja serta letaknya yang dekat dengan Kebun Raya Eka Karya menjadikan tempat ini menjadi salah satu andalan wisata pulau Bali.” Torro menjelaskan layaknya seprti guide.

“Ya, udaranya sejuk, pemandangannya benar benar indah” jawab Riyanti sambil melipat tangannya yang berasa dingin, udara memang agak mendung.

“Di tengah danau terdapat sebuah Pura yaitu Pura Ulun Danu yang merupakan tempat pemujaan kepada Sang Hyang Dewi Danu sebagai pemberi kesuburan.” Lanjut Torro. “ Nanti kita bisa istirahat di taman atau kamu mau mengitari danau dengan sampan?” Torro mencoba memberi tawaran.

“Eh, kita duduk di taman saja, jadi aku bisa sambil memotret lebih banyak!” kata Riyanti. Padahal bersampan berdua kayaknya romantis tuh, bisik hati Riyanti. Tapi dengan pria beku ini, duh ga janji deh!

“OK, tapi waktunya ga boleh lama lama ya, kita akan pulang lewat Ubud, mungkin akan makan waktu lama, sebentar lagi hujan!” kata Torro persis seperti guide, tak memikirkan perasaan Riyanti yang masih ingin berlama lama di sini.

“Baiklah,” jawab Riyanti, perbincangan yang kaku. Coba kamu bawa mobil, kan kita tak perlu kejar kejar dengan mendung! Rutuk hati Riyanti tanpa cemberut di wajah!

Setelah lelah memotret sana sini, mereka kemudian makan siang sebentar di lanjutkan perjalanan ke Ubud. Berboncengan berdua, Riyanti sebenarnya mulai merasa pegal pegal di pinggang, tapi dia tak mau mengeluh!

Sepanjang perjalanan mengitari Ubud terhampar sawah yang sangat luas, kiri kanan. Indah sekali, bisik hati Riyanti terkagum kagum. Mereka berhenti sejenak untuk menikmati indahnya alam Ubud.

“Ubud adalah sebuah tempat peristirahatan di daerah kabupaten Gianyar. Ubud terutama terkenal di antara para wisatawan mancanegara karena lokasi ini terletak di antara sawah dan hutan yang terletak di antara jurang-jurang gunung yang membuat alam sangat indah. Selain itu Ubud dikenal karena seni dan budaya yang berkembang sangat pesat dan maju. Denyut nadi kehidupan masyarakat Ubud tidak bisa dilepaskan dari kesenian. Di sini banyak pula terdapat galeri-galeri seni, serta arena pertunjukan musik dan tari yang digelar setiap malam secara bergantian di segala penjuru desa, ” kembali Torro menjelaskan dengan gaya seorang guide.

“Ya, takjub akan keindahan bentuk sawah sawah ini,” jawab Riyanti,sambil terus memotret!

Hm,lumayan hasil bidikanku hari ini tak terlalu mengecewakan, hibur hati Riyanti. Keindahan alam Bedugul dan Ubud mampu mengalihkan perhatiannya dari Torro yang kurang simpatik itu. Ah, andaikan dia pria romantis, pastilah cerita perjalananku akan lengkap. Selengkap cerita cerita sahabatnya yang berbulan madu ke sini! Tapi nyatanya Riyanti belum merasakan adanya romansa di sini, dia masih berasa seperti berjalan sendirian! Im not in love, bisiknya dalam hati. Tapi ini baru hari kedua, masih ada sisa beberapa hari lagi, mungkin kami bisa lebih dekat saling mengenal, Riyanti mencoba berharap!Perjalanan hari ini mereka selesaikan dengan baik dan badan pegal pegal , naik motor seharian tanpa pegangan di pinggang, duuuuh!

Chapter Three : Ku Tunggu Kau Di Monas

Riyanti menarik selimutnya dan meringkuk memeluk guling, AC kamar ini dingin sekali! Katanya dalam hati.Huammm, dia masih mengantuk berat. Badannya masih pegal pegal, akibat perjalanan kemarin. Sejenak dia mau tertidur lagi, ketika pintu kamar diketuk.
Tok tok tok! Riyanti melihat jam sudah jam delapan pagi lebih limabelas menit. Waktunya sarapan hotel akan habis, wah! Riyanti meloncat dari tempat tidur, dibukanya pintu, ada Yetty di situ tersenyum sumringah.

“Good morning Yanti sayang, kamu tidurnya pulas ya, dari tadi aku ketuk pintu!”kata Yetty sambil masuk ke dalam. “Ayo, kamu siap siap! Kita akan ke pasar Sukawaty, dari situ kita akan lanjut ke GWK, malamnya kita dinner di Jimbaran, asikkan ?”

“Aku masih capek, Ti, besok sajalah…aku mau istirahat dulu, lagian aku mau edit hasil jepretanku.” Riyanti terlihat malas malasan sambil naik lagi keranjang, meringkuk!
“Kamu akan bosan jika di kamar ini terus, belanja di Sukawaty pasti membuatmu bergairah! Mumpung hari ini kita bisa jalan berempat, pasti lebih seru!”

Riyanti tiba tiba terduduk lagi.

“Dengan Torro? Oh no!”
Yetty tertawa.

“Kenapa ? Dia tak menggigitmu kan?”Sudahlah, ayok sekalian kamu sarapan dulu, sayangkan dah bayar mahal di sini breakfastnya dilewatkan.”

Perjalanaan hari ini mereka lewatkan, dengan memborong pernak pernik di Pasar Tradisional Sukowaty yang terkenal itu.
“Bila berkunjung ke Bali, orang tidak akan melewatkan sebuah tempat berbelanja terkenal yang paling digemari, yaitu Pasar Seni Sukowati. Di sini kita dapat memperoleh berbagai barang dan cindera mata khas Bali. Orang menyebut pasar ini sebagai surga berbelanja karena kita bisa menemukan beraneka ragam souvenir khas Bali, kain Bali, baju, tas, kain pantai, ikat kepala, patung, lukisan, anyam-anyaman, sprei tempat tidur dan alat musik tradisional dan masih banyak lagi yang lainnya, dengan harga yang murah. Berbagai ukiran dan pernak pernik khas Bali merupakan daya tarik yang selalu mengundang begitu banyak pengunjung datang dan berbelanja untuk membawa pulang cindera mata bagi keluarga dan handai tolan. Hampir di setiap hari libur maka pasar ini akan diserbu dengan banyak turis lokal maupun luar negeri untuk mencari barang-barang khas Bali yang mereka sukai.” Papar Yetty sepanjang perjalanan, penuh semangat! Tak heran jika dia memang dijuluki ratu belanja oleh Riyanti.
Puas dari berbelanja mereka singgah ke Garuda Wisnu Kencana, dilanjutkan makan malam di Jimbaran. Riyanti benar benar puas berkeliling Bali di temani Yetty sepupunya, Bang Bonar dan tentunya si patung arca, Lamtorro! Suasana sedikit lebih ramai karena Yetty tak berhenti dengan cerita cerita lucunya. Riyanti juga merasa lebih rileks saat ngobrol dengan Torro. Tak banyak memang yang mereka bicarakan, hanya seputar tempat tempat wisata di Bali. Kalau bicara soal parawisata Bali, Torro kelihatan lebih antusias, maklum guide! Dan ini malam terakhir Riyanti di Bali, besok dia akan kembali ke Jakarta, kembali ke rutinitas pekerjaannya. Tapi sampai saat ini sedikitpun Torro tidak menyinggung kelanjutan hubungan mereka.Hm, tak ada tanda yang jelas mau dibawa kemana hubungan ini,hati Riyanti bertanya tanya, tapi sungkan untuk memulai duluan. Yetty pun terlihat tak terlalu mencampuri banyak. Sudahlah, pikir Riyanti, kalau memang jodoh tak kan kemana. Bali, im not in love!
====

Riyanti sudah siap denga seat beltnya, sebentar lagi pesawat akan take off, meninggalkan Bali dan kenangannya. Tadi Riyanti hanya diantar oleh Yetty seorang, tanpa Torro karena katanya ada tamu yang harus dibawa berkeliling Bali. Sejujurnya Riyanti kecewa, tapi berusaha untuk memahaminya. Ditariknya jaket menutupi badannya, sambil memasukkan tangannya kekantong jaket, sepertinya ada kertas didalamnya. Sebuah surat dari Torro, Riyanti tersentak buru buru dibukanya, dia mulai membaca.

Dear Riyanti,

Mohon maaf saya tak bisa mengantarmu sampai ke bandara, semoga kamu bisa memahaminya. Saya sangat terkesan bisa berkenalan denganmu. Tak salah memang jika Yetty ngotot ingin mempertemukan saya dengan kamu. Kamu benar benar seorang wanita sangat menarik dan istimewa. Kamu sangat mandiri dan fleksibel serta ramah. Senyummu membuat jantung saya bergetar setiap kita bertemu. Sampai sampai saya tak bisa berbicara banyak dihadapan kamu. Mungkin kamu mengira saya adalah pria batu yang tak mengerti wanita, sungguh itu hanya karena saya terpesona denganmu. Saya takut berpengharapan lebih terhadap kamu, dan mengecewakan saya. Jika kamu berkenan, saya ingin melanjutkan hubungan kita ini menjadi lebih serius, dan saya akan membuktikannya dengan mengunjungimu ke Jakarta bulan depan. Semoga berkenan.

Salam,
Lamtorro

Dada Riyanti bergetar kencang, debaran jantungnya sangat berasa,ada senyum di sudut bibirnya. Ah, Torro kau telah berhasil membuatku penasaran tak karuan. Baiklah, kutunggu kau di Monas, kita akan keliling Jakarta, aku jadi guidenya. Pesawat pun sudah take off meningglkan landasan. Dari kaca jendela, Riyanti melayangkan pandangan ke bawah, melihat pantai Kuta yang semakin jauh mengecil, makin lama terlihat Pulau Bali yang semakin mengecil. Riyanti tersenyum bahagia, melayang!

bedugul indah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s