Dibawah Sinaran SuperMoon

Butet sudah bersiap siap malam ini keluar rumah, tekadnya adalah “aku harus melihat supermoon, aku ingin bermandikan sinar purnama, tahun lalu aku tak beruntung, awan kelabu menutupi sinaranya.” Fenomena bulan lebih besar dari biasanya hanya muncul sekali waktu saja dalam setahun,kesempatan yang sangat jarang untuk dinikmati. itupun kalau ngantuk tak menyerang!.

Tapi bukan keindahan supermoon yang mengutamakan Butet keluar rumah. Kegalauan pikiran dan kegundahan hatinyalah penyebabnya. Keputusana harus kuambil, bisik hati Butet. Sekarang atau selamanya akan membatu, memfosil tersimpan di dalam hati. Aku harus mampu, aku harus bisa! Tekad hati Butet sudah bulat.

Supermoon

Pertanyaan para kerabat dekat maupun handai taulan sudah sangat memerahkan kupingnya, hatinya sudah mulai kesal. Kapan? Apakah kau akan hidup sendiri terus, menjomblo? Berapa usiamu sekarang? Marga apa suamimu? Apa kau belum punya calon? Apa kau tidak pikirkan itu? Pertanyaan yang sangat menusuk membuat tak bisa lagi berkata kata. Selama ini Butet hanya menjawab senyum sungging dengan hati yang getir. “Ya, aku masih jomblo aku tak punya calon, akan kupikirkan mencarinya,”

Diam diam dihati Butet menangis. “Benarkah aku masih jomblo, benarkah aku tak mempunyai kekasih? Sementara ada satu lelaki yang selama ini mengisi hari harinya, diam diam tak ada yang tahu. Ya, diam diam Butet mencintai Bonar sahabatnya di kampus dulu. Bonar tidak pernah tahu, sampai suatu waktu mereka bertemu kembali di reuni kampus. Hati Butet bergejolak, getar getar itu masih ada. Sampai berapa lama lagi ini kusimpan? Apalagi Bonar sudah menikah! Bonar pernah bercerita bahwa pernikahannya tidak bahagia. Oh…hati Butet berteriak “Ku tunggu dudamu.”
Entah siapa yang memulai mereka menjadi sangat dekat. Tanpa mereka sadari mereka telah terikat “cinta terlarang”. Tapi bukan cinta ini yang kumau,aku bisa menjalani hubungan ini tanpa masalah, tapi pertanyaan “kapan”itu, selalu mengoyak ngoyak perasaan Butet.

Supermoon sudah naik di langit malam, sinarannya menyirami bumi dan penghuninya. Butet memandangi wajah purnama yang indah itu. Indah dari jauh! Di bawah sinaran rembulan malam Butet membulatkan tekad memutuskan cintanya dengan Bonar dengan diam diam, dan dia tak perlu menjelaskan alasannya. “ Aku harus benar benar jadi jomblo, hatiku takkan terikat lagi.” Bonar bukan untukku meskipun aku mencintainya, mengharapkan perceraiannya bukanlah keinginanku, aku tak mau egois.” Bagaimanapun aku hidup bukan hanya untuk diriku, tapi juga orang lain, keluargaku, kerabatku, dan lingkunganku.”

Dibawah sinaran Supermoon, Butet tersenyum sumringah, hatiku sekarang telah bebas, takkan kusesali, aku benar benar jomblo, besok aku akan mencari pasangan yang jomblo juga,bisik hatinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s