Saya Ingin Mengabadikanmu

Hari Minggu adalah waktu yang tepat bagi saya untuk menyalurkan hobby memotret. Sebenarnya saya harus pergi kebaktian dan bekerja juga. Tapi waktu yang sempit ini harus benar benar saya manfaatkan. Hari Minggu jalanan ke kantor saya tak terlalu ramai, dan lokasi saya melakukan pemotretan adalah taman sepanjang jalan menuju kantor. Langit lumayan cerah, mataharipun bersinar terang! Sebenarnya sinar matahari tak terlalu baik untuk hasil memotret, tapi tak mengapalah saya coba menikmatinya.

Beberapa tanaman bunga yang telah saya incar buat dipotret langsung saya datangi satu persatu. Lokasi tanaman bunga ini sangat tidak strategis untuk diabadikan. Di satu sisi, sepanjang jalan ada lalu lalang kenderaan yang harus saya hindari, belum lagi di seberangnya adalah danau kecil. Jadi saya hanya bisa memotret dari satu sisi jalan, dengan lokasi tanaman yang berbeda beda sudutnya, ugh! Belum lagi pencahayaannya yang tidak pas dengan fokus. Kadang saat fokus sudah pas cahaya juga ok, eh tiba tiba angin berhembus. Hmmm, ternyata memotret diperlukan juga kesabaran. Kesabaran menghadapi alam, yang notabene tak mungkin diomelin. Sangat menantang bagi saya pemotret amatiran ini. Tapi kalau tidak diabadikan sekarang kapan lagi? Besok belum tentu tanaman bunganya masih bagus, batin saya berbisik.

Hibicus Kembang Sepatu

Sayapun mencoba lagi, potret sana sini. Tak perduli tatapan mata manusia yang lewat, saya tetap melanjutkan aktivitas saya ini, namanya juga hobby ya cuek sajalah! Kadang saya harus menarik tangkai yang tinggi, melepas sepatu sambil memanjat pembatas taman supaya dapat bunga yang bagus dan mekar. Tapi dari sekian tanaman bunga yang saya abadikan, tak satupun yang saya anggap bagus hasilnya, padahal saya merasa sudah melakukan cara cara yang pas berdasarkan teori memotret ototidak saya, yaitu hanya mengandalkan feeling dan ketajaman mata. Hmmm…ada apa ya, kenapa bunga bunga ini seperti enggan saya abadikan?

Saya tercenung sejenak sambil mengamati tanaman bunga itu. Tiba tiba seperti ada bisikan di hati saya, “Risma, ajak mereka bicara.” Sayapun tertegun! Ya ,mengajak bunga bunga itu berbicara, itu yang tak saya lakukan! Sambil tersenyum saya datangi kembali bunga bunga itu, sambil berbisik pelan,”Hai cantik, saya ingin mengabadikanmu, tunjukkanlah keindahanmu, please!” Sepertinya bunga bunga itu membalas senyuman saya, mereka menunjukkan keindahannya. Sayapun mulai semangat lagi potret sana sini. Hasilnya pun sangat memuaskan saya. Saya berhasil mengabadikan keindahan bunga bunga itu. Dan saya cukup puas dengan hasil hari ini walaupun keringat menetes dan panas terik yang membuat pusing kepala.

Ternyata bungapun mempunyai bahasa sendiri, bahasa kecantikan, keindahan! Mereka juga ingin diajak bicara, bicara dengan hati. Tak berlebihanlah memang jika ada ungkapan “say it with flower”, sebagai salah satu cara kita menyampaikan isi hati yang tak terungkap dengan kata kata. Karena bunga itu sendiri telah membahasakan diri mereka dari bentuk dan warna mereka yang cantik dan indah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s