Antara Tya, Leo dan PR Matematika

Sore itu ibu meminta Tya mengantarnya ke Drg Acun Sasmitha dokter gigi langganan keluarga mereka. Gigi depan ibu ada yang patah harus dicabut sekalian mau dibuat gigi palsu. Dulu sewaktu gigi Tya ada gingsulnya ,Drg Acun juga yang merapikannya sehingga Tya tak lagi malu malu tersenyum lebar. Drg Acun memang sangat ahli di bidangnya. Permak gigi. Selain itu beliau sangat ramah dan perhatian pada gigi pasiennya . Entah karena itu pula ibu suka periksa gigi di kliniknya, entah sudah berapa gigi ibu yang dicabut di sini. Tya hanya menurut saja jika ibu minta diantar ke klinik Drg Acun. Dan inilah awal kisah cinta Tya.

Sepulang dari klinik gigi ibu memintanya mengantar ke kios pakan ternak ayam. Kebetulan memang ibu memiliki ternak ayam cukup banyak dan pakannya sudah habis. Tya sebenarnya menolak, kasihan melihat ibu yang tak bisa bicara banyak karena mulut masih harus tertutup karena sumpalan kapas penahan darah supaya tak mengalir keluar, Tya akhirnya menurut saja sekali lagi mengantar ibu dengan motor bebeknya. Toko pakan ternak ayam “ Waluyo Sukses Berdikari” memang tak jauh dari klinik Drg Acun, hanya beda beberapa ruko saja. Sambil menunggu ibu memesan pakan ternak yang akan diantar kerumah, Tya hanya berdiri sambil memandangi jalan raya melihat orang yang lalu lalang. Hmmm…besok ujian matematika, tugas rumah belum dikerjakan, belum tugas mengarang! Pikir an Tya, galau…ketika seorang lelaki menegurnya.

“Dik, duduk saja di sini sambil menunggu ibu selesai…”kata lelaki itu sambil menyodorkan kursi plastik tanpa sandaran. Tya menerimanya sambil memandang sekilas dengan seulas senyum manis. “Eh…iya…makasih.” Tya terdengar sedikit gugup. Tya sangat pemalu apalagi ketika berhadapan dengan seorang lelaki tampan seperti yang dihadapannya. Tubuh atletis tingginya melebihi kepala Tya. Rambut agak cepak. Kulitnya sawo matang. Beberapa kali Tya mengantar ibu ke sini tak pernah Tya melihat lelaki ini. Siapa dia?Ada desiran di hati Tya, tapi Tya menepisnya dan berusaha tenang, seolah olah Tya tak melihat ada mahkluk tampan dihadapannya. PR nanti malam gimana? Tya masih risau memikirkannya. Ibu sudah ada dihadapan Tya dan menarik tangannya.”Ayo kita pulang, nanti pakan ternaknya biar nak Leo yang mengantarnya ke rumah.”

Tya masih berkutat dengan PR matematikanya masih ada beberapa soal lagi yang belum selesai. Rumit! Kepala Tya sudah mulai cenat cenut dan mata ngantuk ketika ada suara memanggil di luar pagar rumah. Ibunya sudah tertidur dengan gigi yang masih nyut nyutan maklum efek biusnya sudah mulai habis, gusi mulai terasa sakitnya. Tya keluar rumah, membuka pagar ketika dia melihat di malam yang sedikit temaram. Leo dengan motor bebeknya dan beberapa karung pakan ternak diboncengan belakang. Malam sekali dia mengantarnya, bisik hati Tya.

“Maaf baru bisa ngantar jam segini, maklum stock baru datang,”kata Leo sambil menurunkan karung karung itu dari motornya, mengantar masuk lewat pintu samping. Ternak ayam ibu Tya ada di halaman belakang. Tya hanya memandangi Leo yang mondar mandir mengantar karung karung itu. Ada peluh dikeningnya. Leo terlihat sangat kuat dan berotot. Mungkin sudah terbiasa angkat beban berkarung karung gitu, pikir Tya. Apakah Leo tidak sekolah atau kuliah, ah…kasihan sekali dia hanya pekerja sebagai tukang antar pakan ternak. Tya masih melanjutakan pikirannya.

“Sudah selesai, saya pamit dulu…”kata Leo sambil berjalan keluar pagar. Tya hanya mengangguk. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Tya bingung mau bilang apa, ketika Leo tiba tiba berbalik lagi.

“Oh iya, kita belum kenalan, nama saya Leo…Leonardo Pandapotan Siregar, nama kamu siapa?” kata Leo sambil mengulurkan tangannya. Bersalaman. Tya menyambutnya agak ragu.

“Tya….Tyanggur Hasiholan Sitorus.” Kata Tya mengikuti Leo menyebutkan nama lengkapnya. Ah, kenapa pula begini, pikir hati Tya.

“Kelas berapa kamu?”tanya Leo lagi.

“Kelas 3 SMA….”

“Oh…sebentar lagi ujian akhir ya….maaf kalo gitu saya mengganggu ya….Hmmm….besok besok kita bisa jalan ga Tya?” Ditanya begitu Tya kaget spontan menggeleng.

“enggg….enggak…maaf saya ga bisa, saya harus masuk, pe er saya masih banyak…saya ga janji.” Tya belum pernah keluar kencan! Dia kikuk dia grogi. Tya masih polos. Leo hanya tersenyum melihat tingkah Tya. “Ya sudah kalo ga bisa..saya pamit dulu ya.” Leo pun berlalu dengan tunggangannya. Dan Tya gelisah di kamarnya antara memikirkan Leo dan PR matematikanya. Tya tak lagi konsentrasi…..Kenapa saya tak menanyakan dia sekolah dimana atau kuliah dimana. Bukankah dia cukup tampan untuk saya jadikan pacar? Tapi saya masih sekolah mana bisa pacaran? Ibu pasti marah! Apalagi ke mana mana ibu minta diantar…Ughhh…Hati Tya mulai bergejolak!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s