Balada Surti dan Waluyo

Surti Goes to Eiffel

Mungkin bagi sebagian orang nama Surti tak terlalu berpengaruh, atau bahkan mungkin tak kenal sama sekali. Tapi bagi seorang Ton Waluyo, Surti adalah segala galanya. Surti seorang gadis desa yang ayu, rambut hitam panjang sepunggung digelung tanpa poni membuat kecantikan Surti sangat Indonesia asli ga beda jauh dengan ibu kita Kartini, Harum namanya. Surti tidak pernah mengecap bangku kuliahan, hanya jebolan SMA sore di desanya karena ketidakmampuan orangtuanya membiayai ke perguruan tinggi. Padahal Surti lumayan cerdas disekolahnya. “Sudahlah Ti, ga usah sekolah tinggi tinggi, tar juga nikah hanya untuk ngurus dapur sumur dan kasur, sama seperti ibu, “kata Si Mbok Sum ibu Surti, ketika Surti mengutarakannya keinginannya kuliah di kota.
“ Saya kan ingin jadi puteri Indonesia juga bu, sama kayak yang di tipi tipi itu, siapa tahu kelak saya bisa menjdi anggota dewan yang menyuarakan suara rakyat bu,” Surti mencoba membujuk ibunya.

“Maksudmu ikutan korupsi gitu Ti, makan uang rakyat?” dahi Mbok Sum berkernyit ga ngerti . “Ibu tak mau hidupmu berakhir di penjara Ti. Sudahlah Ti, bantu ibu aja ngulek ramuan buat dagangan jamu kita besok, jangan mikir yang aneh aneh Ti, yang realistis aja, kerja sekarang buat di makan sekarang.” Kata si Mbok Sum sambil terus mengulek ramuan jamu. Si Mbok Sum memang pembuat jamu tulen yang sudah terkenal khasiatnya. Si Mbok bermaksud menurunkan ilmu meresep jamunya ke putrinya Surti untuk meneruskan usaha dagang jamunya yang sudah dirintis sejak Surti masih bayi. Suami entah pergi kemana meningggalkannya saat Surti masih bayi.Mbok Sum memilih menjanda sambil membesarkan Surti seorang diri, single mother!
Dari seorang penjual jamu gendong keliling si Mbok berhasil membesarkan usahanya menjadi penjual jamu dengan gerobak dorong yang lebih besar. Berjalan kaki keliling desa di bantu Surti. Sekarang Si Mbok mau melebarkan sayapnya ke kota berdagang jamu, di dekat pabrik garment. Mulailah si Mbok mengajari Surti berjualan jamu gendong. Bersama mereka berjalan dari pabrik ke pabrik menawarkan jamu sehat alami hasil ulekan SiMbok Sum dan Surti.

Inilah awal perkenalan Surti dan Waluyo si mandor pabrik yang konon katanya playboy kampung. Awalnya Surti tidak keberatan kalau Waluyo mengapelinya malam minggu, bahkan Surti sudah mempertimbangkan Waluyolah kelak yang akan menjadi ayah dari anak anaknya. Waluyo memang tidak terlalu ganteng , wajahnya rata rata saja , tapi penampilan yang selalu tampil parlente membuat banyak gadis kepincut. Belum lagi Waluyo yang pintar cakap dan gombal, Waluyo sangat pintar mengambil hati Surti. “Suara kelepuk bakiakmu selalu menggetarkan hati setiap kudengar kau berjalan di ujung gang itu,”kata Waluyo suatu waktu merayu Surti. Surti yang malu malu hanya tertunduk sambil memulas mulas ujung kaos oblongnya sampai kelihatan kusut. Sambil tersenyum malu malu, dicubitnya Waluyo gemas, “ah..mas bisa aja.” Waluyo pun melayang!

Tapi kisah Surti dan Waluyo tak berakhir di pelaminan. Waluyo ternyata sudah beristri! Surti tak mau di madu Surti minta putus!”Mas, tega! teriak Surti sambil berlari meninggalkan Waluyo.”Mau ke mana kau Surti,”kejar Waluyo.”Saya mau ke menara Eiffel, saya mau menggantungkan diri saya saja di sana, biar mas puas! “Saya bersumpah jika terbukti saya sudah beristri, biar saya saja yang digantung di Monas asal kau jangan pergi Surti!” teriak Waluyo tanpa berhasil menghentikan laju kaki Surti yang berlari kencang. Surti menghilang di ujunga gang. Waluyo hanya tertunduk lesu tak mampu mengejar Surti lagi.Kaki nya terasa keram kesemutan.

Victoria Park I’m Coming

Surti masih duduk termenung memandangi jamu jamu yang sudah diracik dan diisi kedalam botol botol yang tersusun rapi dibakul jamu gendongnya. Surti sudah siap dengan dandanan kebaya sederhana dan kain batik pengganti sarung yang dililit sebagai rok panjangnya. Udara pagi di luar sangat cerah, saat yang tepat menjual jamu keliling setelah beberapa hari ini selalu hujan di pagi hari. Cuaca sekarang sering tak terduga kadang panas tiba tiba hujan. Hal ini tentu saja mempengaruhi omzet penjualan Surti yang mengandalkan cuaca baik untuk bisa berjalan lebih jauh, mendatangi pabrik demi pabrik yang ada di sepanjang jalan raya kota tempat dia tinggal bersama Mbok Sum. Bubaran karyawan pabrik di pagi hari target utama Surti dan Mbok Sum, maklum habis kerja lembur perlu jamu buat mengembalikan tenaga yang terkuras malam hari bekerja. Pelanggan Surti sudah cukup lumayan. Surti yang ramah selalu dengan sabar melayani pelanggannya wanita maupun pria. Yang pria suka nakal menggodanya. Tapi Surti sudah tak menggubris pria pria itu lagi sejak dia memutuskan Waluyo. Hatinya masih tertutup buat pria lain. Takut terluka dengan pria yang sama yang setipe Waluyo. Sebaiknya aku pergi saja dari sini,mencari hidup yang lebih baik, bisik hati Surti.

“Loh kenapa masih melamun Ti, belum berangkat juga?”tegur Mbok Sum membuyarkan lamunan Surti. “Bu, saya ga mau lagi jadi penjual jamu keliling, saya mau jadi TKI saja, saya mau ke Hongkong, gajinya besar bu. Uangnya bisa ditabung buat nanti modal ibu jadi pengusaha jamu benaran, kita bisa buka pabrik jamu bu, ga keliling dan menggendong bakul begini,” kata Surti dengan wajah mendadak cemberut, tak seperti biasanya. “Ada apa ini dengan Surti?” Mbok Sum jadi bertanya tanya dalam hati. Di dekatinya Surti Putri semata wayangnya. Dipeluknya Surti dari belakang dengan sebelah tanganya yang melingkar di di pundak Surti. Berdua mereka terduduk dilantai semen kontrakan mereka yang sederhana. Ada rasa sesak di hati Mbok Sum melihat Surti yang berwajah sedih pagi ini. “Jangan tinggalkan ibu sendirian, nak.” Terdengar suara Mbok Sum bergetar menahan airmata yang hampir jatuh di ujung kelopak matanya.”Ibu dengan siapa nanti, ibu sudah tak punya siapa siapa lagi sejak bapakmu pergi .Keluarga juga tak bisa ibu andalkan, kau tahu kan keluarga kita tak jauh beda seperti kita juga, siapa yang akan mengurus ibu Ti, kalau ibu semakin tua dan tak kuat lagi menjual jamu?” “Tapi bu, saya malu jadi tukang jamu gendong terus, saya sering digodain pria pria nakal bu, image saya jadi jelek, saya mau pencitraan juga bu bahwa tak semua penjual jamu itu bisa dipegang seenaknya.” Surti rupanya sudah mulai mengerti dengan nama baik, citra diri.” Saya mau kita mempunyai hidup yang lebih baik bu, saya tak mau gagal lagi seperti dulu ibu dengan bapak.”

Mbok Sum terdiam sejenak. Mengenang kembali bagaimana dirinya dijodohkan dengan Mas Karta mantan suaminya. Sum tak pernah cinta benar dengan Karta. Tetapi karena orangtua Karta memiliki sawah yang luas dan beberapa ekor sapi dan kambing Sum mau saja dijodohkan oleh orangtuanya yang waktu terbelit hutang dengan keluarga Karta. Sum adalah kembang desa inceran pemuda desa bahkan sampai ke desa tetangga sebelah. Sum sebenarnya mencintai Dadang si gembala sapi yang sering mengajak bermainnya lumpur di pematang sawah. Sayang mereka tak berjodoh. Dadangpun merantau entah kemana begitu tahu Sum akan dijodohkan dengan Karta. Sum hanya menerima nasib dan mencoba menerima Karta sebagai suaminya dengan ikhlas sampai Surti lahir. Terbetiklah bahwa Karta rupanya mempunyai istri simpan. Sum tak bisa terima dimadu. Mereka bercerai dan Sum tidak mendapatkan apa apa. Rupanya harta Karta sudah terkura habis oleh madunya. Sum memilih mengurus Surti sendiri tanpa menikah lagi. Kecuali mungkin nanti kalau bertemu kang Dadang kekasihnya. Rupanya kisah si Mbok Sumlah yang membuat Surti juga tak mau dipermainkan pria semodel Waluyo itu.

“Kau tahu apa tentang TKI Ti, tak kau bacakah berita di koran banyak TKI kita jadi korban tuannya di luarnegeri?” “Bu, itu kan hanya sedikit saja dibandingkan TKI yang berhasil, TKI itu kan sumber devisa negara bu.” “Ibu ga ngerti itu Ti, buktinya negara kita masih saja miskin, katanya sumber devisanya banyak tapi pemimpinnya juga banyak yang korup, ibu dengar di tipi begitu Ti,lagipula kau tak punya kenalan di Hongkong Ti, ibu khawatir nak,” Mbok Sum masih mencoba membujuk Surti untuk mengurungkan niatnya menjadi TKI. Bagaimanapun di negeri sendiri jauh lebih enak menurut Mbok Sum.

“Saya punya kenalan dipesbuk bu dengan mbak Narti yang sudah lima tahun di Hongkong. Hidupnya sekarang bahagia, punya sawah sendiri, punya sapi , kambing. Pacarannya juga sama bule bu, aku lihat photo photonya di pesbuk , Mbak Narti mau membantu saya kalau saya mau menyusul ke Hongkong. Setiap minggu pagi Mbak Narti bertemu sesama TKI di Victoria Park, melepas kangen. Penampilannya keren keren bu, pakai tas Channel KW an Hongkong bu. Mereka gaya gaya. Saya ingin seperti mereka juga bu,”Surti cerita bersemangat, wajahnya berbinar kembali membayangkan dirinya ada di Victoria Park dengan sepatu Booth dan mantel bulu leopard sambil menenteng tas Hermes bukan bakul jamu gendong!

Ee Nambara, Waluyo…Lebih Baik Sakit Gigi.

Waluyo duduk selonjoran di sofa butut kontrakannya sambil nonton tipi, dahinya kadang berkerut. Kakinya berasa kesemutan. Sekali sekali digaruknya kepalanya yang terasa gatal seperti ketombean. Gonta ganti saluran tipi dipencetnya, tak ada yang menarik hatinya. Acara tipi itu itu melulu, sinetron kejar tayang, gimana negara ini mau maju kalau kualitas tontonannya hanya menunjukkan adegan marah marahan gitu? Gerutu hati Waluyo.Belum lagi acara debat debat politik yang tak ada juntrungannya, ada pengacara saling berdebat sengit di tipi, belum lagi berita berita kenaikan harga BBM yang bakal makin mencekik rakyat.

Negara sudah mau bangkrut rupanya, jelas saja! Lah uang negara sudah habis disikat para koruptor yang selalu tampil di tipi bak selebritis tanpa muka berdosa. Sementara para penegak hukum maupun aparat keamanan hanya sibuk dengan pencitraan, lihat saja bagaimana polisi ganteng segitu saja muncul terus di tipi hanya untuk mengalihkan opini publik akan makin caruk maruknya keadaan bangsa ini. Di mana demokrasi? Gerutu Waluyo lagi. Kalau saja negara benar benar memelihara rakyat miskin dan anak terlantar tak mungkinlah para TKI pergi berbondong bondong keluar negeri. Termasuk Surti pujaan hatinya yang telah memutuskan tali cintanya dan memilih hengkang ke Hongkong untuk mengadu nasib.

Teringat akan Surti, sampai detik ini Waluyo belum bisa memahami kenapa Surti memutus hubungan mereka tanpa ada klarifikasi dulu dari Waluyo tentang kebenaran statusnya. Surti benar benar tidak memberinya kesempatan untuk membela diri. Kejam juga kau Surti, bahkan para koruptor yang jelas jelas salah itu diberi kesempatan untuk membenarkan diri. Gumam hati Waluyo. Tapi ini pasti ada dalangnya, siapa kira kira yang telah menyebar issue bahwa dirinya telah menikah? Waluyo mencoba berpikir memutar otaknya. Pikirannya galau. Satu persatu wajah wajah yang dicurigainya yang telah mempengaruhi Surti muncul.

Dee, seingatnya dulu pernah naksir dirinya, tapi tak terlalu akrab dengan Surti, bagaimana mungkin Dee mempengaruhi Surti, kata Dee dia tak suka jamu, jadi tak pernah kenal dengan yang namanya Surti si penjual jamu gendong itu.
Atau si Titoet ibu tetangga sebelah kontrakannya yang setiap hari nunggu tukang sayuran lewat rumahnya, si Titoet ini paling rajin ngobrol dengan mas Tukang sayur sedikit merayu supaya harga sayur menjadi anjlok plus dapat bonus bumbu masak. Jangan jangan si Titoet yang gossipin dia dengan si tukang sayur, kemudian si tukang sayur menyebar ke semua ibu ibu langganannya. Waluyo mulai curiga. Tapi berusaha ditepisnya, toh si Titoet juga baik kepadanya memberi masakaan sayur asem atau sayur lodeh kepadanya jika kebetulan Waluyo libur.”Ini mas dicobain masakanku, suami ku tak suka sayur ini jadi kuberikan saja padamu mas,”kata Titoet dengan mata sedikit dikedipin. Waluyopun tak kuasa menolak pemberian Titoet. Ah….sayang kau sudah menikah dan beranak dua, bisik hati Waluyo.

Atau mungkin Umi? Ibu ibu arisan yang terkenal sosialita di kompleknya? Umi ini langganan jamu Surti, galian rapet dan galian singset dan galian awet muda. Tapi apa urusaan Umi sama Waluyo? Apa untungnya bagi Umi kalau Surti memutuskan Waluyo? Waluyo jauh banget dari selera tante Umi. Tak mungkin! Hmmm…jangan jangan ini kerjaan Ling Ling, tapi dari mana dia tahu asal usul aku? Pikir Waluyo. Lagipula Ling itu orang yang taat beragama, mana mungkin sih dia bergossip sampai menyebar issue yang tak jelas kebenaranya?

Kalau Sari jelas tak mungkin dia sangat sibuk dengan kucing kucingnya tak sempat bergaul dengan tetangga lagi apalagi bergossip.”lebih baik ngurusin kucing kucing ama orang utan dari pada manusia, manusia kan dah ada otaknya dah bisa mikir sendiri ama ngurus diri sendiri,”kata Sari suatu ketika saat ngobrol dengan Waluyo.

Waluyo masih belum bisa menebak siapa kira kira yang telah memelintir kebenaran tentang dirinya. Masih ada sederetan nama yang dicurigai. Si Risma, si Dewi, si Lucy, si Dinita, si Eva, si Retno atau si Lusia atau si Rossy banyak lagi…Semua wanita itu pernah akrab dengan dirinya. Maklum namanya tinggal di komplek padat penduduk semua saling kenal walaupun hanya sekedar bertegur sapa. Tak heran memang jika gossip juga cepat menyebar bagai bensin kesundut api. Tapi Waluyo memutuskan untuk menghentikan pikirannya itu. Toh Surti sudah di Hongkong, percuma juga kalau dia mencari tahu sekarang, toh Surti tak pernah percaya lagi padanya. Walau ada bekas luka di hati Waluyo dia berusaha tetap terlihat tegar layaknya pria sejati.

Waluyo mematikan tipinya, tontonannya sudah semakin membosankan lebih baik aku dengar musik saja, pikir Waluyo sambil menyetel tape recodernya. Terdengar alunan suara Meggy Z denga lagu kesukaan Waluyo, Sakit Gigi. Waluyopun mulai ikut menyanyikan perlahan mengikuti cengklok dangdut penyanyi dengan sedikit mengoyang goyang pinggulnya. Waluyo menghibur dirinya sendiri.

Meggy Z
LEBIH BAIK SAKIT GIGI

Putus lagi cintaku
putus lagi jalinan kasih-sayangku dengannya
cuma karena rupiah lalu engkau berpaling muka
tak mau menatap lagi

kecewa, kecewa hatiku
terluka, karena cinta

reff:
kalau terbakar api
kalau tertusuk duri
mungkin,
masih dapat kutahan
tapi ini sakit lebih sakit
kecewa, karena cinta

jangankan diriku
semut pun kan marah
bila terlalu… sakit begini

daripada sakit hati
lebih baik sakit gigi ini
biar tak mengapa

rela rela, rela aku relakan 2x
http://musiklib.org/Meggy_Z-Lebih_Baik_Sakit_Gigi-Lirik_Lagu.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s