Cinta Yang Tak Pernah Berbalas

Minar melaju mobilnya dengan kecepatan tinggi, tiba tiba gubrak! Sebuah metromini entah dari mana munculnya, tiba tiba sudah menyerempet mobilnya, kaca spion sebelah kirinya pecah jatuh. Minar mengurangi kecepatan mobilnya,meminggirkannya. Sambil menarik napas dalam dalam,dia menenangkan hatinya, kaget!Sambil menoleh kebelakang, dia melihat si supir metromini, turun tergesa gesa lari ke arah mobilnya, dengan tangan mengepal. Hm, bakal ribut nih,bisik hati Minar.

“Hei, buka kaca kau ini!” teriak si supir sambil mengetok kaca jendela mobilnya, sambil kepalanya tertunduk melihat ke arah Minar. “Kau sudah serempet bus aku, kau harus ganti rugi!”

Minar keluar dengan kacamata hitamnya, tak mau ribut lama lama. Tapi aku kok seperti kenal pria ini, bisik hatinya. Tak mungkin aku bisa lupa!Bah, dia yang salah kenapa aku yang harus ganti rugi?

“Nona, aku tak mau ribut sama kau, cepatlah kau kasih uang damai saja, aku bisa narik lagi tak perlulah kita berurusan dengan polisi!” kata pria itu dengan logatnya yang sangat jelas. Minar melepas kacamata hitamnya.

“Bang Tigor,kaukah itu?” Tanya Minar sambil tersenyum, matanya melihat persis ke mata pria itu dan menyapu seluruh wajah pria itudengan tatapan matanya. Melihatnya dari atas sampai ke bawah. Pria ini yang menghancurkan hatinya 10 tahun lalu, tapi dengan wajah yang berbeda! Hitam,lusuh,kasar dan rambut gondrong dan brewok yang tak dicukur.Ada tatto di lengannya, terlihat dari balik lengan bajunya yang di gulung ke atas. Benar benar terlihat sangar!

Dulu mereka sepasang kekasih di kampung. Minar sangat menaruh harapan pada Tigor sebagai sandaran hidupnya nanti. Tigor pria ganteng di kampungnya, selalu jadi dambaan para wanita saat itu. Penampilannya yang selalu rapi, tutur kata yang lembut, dan anak dari keluarga terpandang, bapaknya kepala kampung pada saat itu. Tigor sangat memanfaatkan keadaan ini untuk menarik hati para wanita wanita di kampungnya. Minar selalu memaafkan Tigor setiap dia ketahuan menduakan cinta.

Sampai akhirnya mereka berpisah,karena Tigor harus melanjutkan kuliah ke ibukota. Minar pun sangat bangga pada kekasihnya itu, dan mengantarkannya sampai ke pelabuhan. Tigor berjanji begitu kuliahnya kelar segera akan meminangnya. Hati Minar berbunga bunga. Tapi janji tinggallah janji, selama merantau di ibukota, dia hanya mendapatkan surat yang isinya, minta uang buat menambah uang kuliahnya. Besar hati Minar, bahwa pengorbanannya tak kan sia sia, toh itu nanti demi masa depan mereka juga. Minar selalu mengirim Tigor uang, dari hasil dia menabung, bekerja sebagai penjaga toko di kota kecil, tak jauh dari kampungnya. Minar memang tak bisa langsung melanjutkan kuliahnya karena masih ada adiknya yang harus sekolah lagi. Tapi apa yang diharapkan Minar sangat jauh dari keindahan yang dibayangkannya. Sampai dia mendengar Tigor sudah menikah di ibukota, dengan wanita lain.Hatinya hancur!

Minar pun nekad datang ke ibukota, bukan untuk menemui Tigor. Tapi untuk mengadu nasib. Sakit hatinya akan pahitnya perlakuan yang dia dapat dari Tigor, membuat dia bekerja tak kenal lelah. Sambil bekerja diselesaikannya kuliahnya. Satu persatu apa yang dicita citakan dulu tercapai,karir, jabatan, gelar , suami dan anak dia dapatkan. Minar berbahagia, tak mau jatuh karena harapannya yang tak tercapai dari Tigor yang dulu sangat di harapkannya.

“Minar!” suara kasar Tigor berubah lembut,persis sama seperti dulu. Tangannya yang tadi mengepal perlahan lahan dilepasnya, menjulurkan tangan ke arah Minar. Merekapun berjabat tangan. “Maaf aku tadi tak melihatmu dari sebelah kiri!” Kata Tigor terlihat grogi dan kikuk melihat penampilan Minar. Tangannya yang lembut dan kulit putih bersih bercahaya, mata berbinar di sapu maskara hitam tebal. Pipinya merah tersapu perona wajah serta bibir yang merekah berwarna merah bata. Khas penampilan wanita karir metropolis dengan balutan baju model terakhir. Minar sangat modis dan stylist. Tentunya Minar denga mobil pribadinya yang barusan dia serempet dengan metromini milik juragannya. Sungguh hati Tigor sangat malu,melihat wanita yang dulu sangat memujanya itu, tapi dia menyia nyiakannya begitu saja. Tigor tergoda dengan wanita lain dan Tigorpun tak pernah menyelesaikan kuliahnya,karena terpaksa harus menikah. Dua tahun lalu wanita yang dinikahinya akibat hamil duluan itu, minggat dengan pria lain, sejak usaha bisnis Tigor bangkrut. Diapun beralih profesi menjadi supir metromini,demi membiayai anak anaknya.

“Bang Tigor, ini kartu namaku, mungkin kita bisa berdamai saja nanti, aku akan ganti semua kerugian ini”kata Minar sambil menyodorkan kartu namanya. Dia tak mau nanti makin ramai orang yang melihat, bisa bisa memancing polisi datang. Dia harus memburu meeting hari ini.
“Ah,sudahlah! Tak usah kau pikirkan itu,kau jalan sajalah, nanti polisi datang, bisa panjang urusannya”Kata Tigor sambil menerima kartu nama Minar! Mereka pun berpisah.

Minar menjalankan mobilnya perlahan, sambil tersenyum sungging, mengingat kejadian barusan! Tigor, lihatlah apa yang kau perbuat dulu padaku, bisik hatinya tanpa dendam. Ada sedikit kelegaan di hatinya. Sekian lama dia memendam rasa ingin bertemu dengan mantan kekasihnya itu. Sekarang tak ada lagi rasa penasaran di hatinya. Minarpun melaju dengan hati tenang dan lega. Tak dipikirnya lagi masa lalunya akibat cinta yang tak berbalas, sekarang dia sudah sukses.Cukuplah sudah! Bisik hati Minar sambil tersenyum manisz!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s