Selingkuh

Bicara soal perselingkuhan memang tak segampang kita membicarakan topik percintaan lainnya. Idealnya memang percintaan itu dilakukan oleh seorang yang tak terikat tali pernikahan. Tapi kita tak bisa menutup mata pula banyak praktek perselingkuhan ini mengatasnamakan cinta. Cinta memang tak pernah kita tahu kapan datang kapan perginya, harusnya sih kalau sudah datang ya jangan pergi, idealnya begitu. Tapi kali ini saya menulis sedikit tentang perselingkuhan ini. Antara korban dan pelaku. Menurut saya sih tak perlu dicari siapa yang salah siapa yang benar. Mencari solusinya itu yang penting, tapi apa emang ada solusi bagi orang orang yang terlibat praktek ini. Terpulang kepada diri masing masing sih, kalau menurut saya. Saya bukan tipikal manusia yang suka menghakimi, jadi saya memilih untuk mendampingi saja jika ada yang terlibat kasus ini.

Bagi masyarakat secara umum selingkuh itu adalah aib yang harus ditutupi, bahkan bila perlu disingkirkan jauh jauh. Itu dosa, tak pantas, harus dihukum, tidak suci, kotor, dan lain sebagainya. Bagi saya selingkuh itu ibarat penyakit yang harus diobati, bukan disingkirkan. Perselingkuhan biasanya muncul karena adanya hati yang sakit, terluka, tak terpuaskan, tak bahagia. Ada satu celah yang kosong di dalam hati keduanya yang harus diisi oleh orang lain akibat ketidakmampuan diri mengisi kekosongan itu. Ada yang mengira bahwa mencari cinta lain bisa mengisi kekosongan itu, ada yang karena nafsu yang tak terpuaskan, sehingga pelaku ingin mencari dan mencari lagi. Maka dia akan menemukan korban dengan keinginan yang sama. Jadilah pelaku dan korban saling mengisi kekurangan itu.

Saya sudah bercerita dengan banyak orang dari hati ke hati, bahwa praktek ini tak hanya terjadi kaum adam saja, kaum hawapun melakukannya. Dan rata rata mereka ini sadar dengan apa yang mereka lakukan. Sadar itu kesalahan, sadar bahwa itu harus dihentikan. Tapi ketidakberdayaan untuk melawan inilah yang kadang tidak dimiliki. Tak gampang memang lepas dari jerat perselingkuhan ini. Apalagi kalautidak ada niat. Tak semua orang pula bisa diajak bicara soal ini. Sehingga ada yang memendam dalam hati sendiri, sampai menyesakkan dada. Sakit memang. Dan yang paling pelik adalah ketika seorang sahabat bercerita tentang perselingkuhan suaminya kepada sahabatnya yang pelaku perselingkunghan juga. Ada pro dan kontra! Tentunya salah satunya harus menahan untuk tidak ikuta ikutan curhat soal masalahnya . Salah satunya harus jadi pendengar yang baik saja.

Saya sudah bertemu dengan para istri yang korban perselingkuhan suaminya, dan saya juga sudah bertemu para wanita yang menjadi korban cinta pria beristri. Jumlah nya berimbang! Tapi apa yang saya dapatkan adalah satu persamaan bahwa wanita itu ingin didengar, diperhatikan dicintai. Itulah penyebab utamanya terjadinya perselingkuhan. Satu hal yang saya pelajari adalah saya semakin peka terhadap perasaan wanita, saya belajar menjaga kepercayaan terhadap orang yang menceritakan masalahnya. Saya juga belajar memahami kondisi hati wnaita lain. Secara umum semuanya sama sebenarnya. Tak ada yang mau disalahkan, tapi dipahami itulah yang penting. Tak perlu debat. Yang penting bagaimana memulihkan rasa percaya diri antara korban dan pelaku. Di sini ini saya tak sedang membicarakan pria sebagai pelaku. Saya hanya berbicara dari sisi kaum hawa saja, karena itu yang bisa saya pahami.

Dan satu tanya yang selalu menggelisahkan saya adalah kenapa bisa terjadi perselingkuhan? Hanya satu jawab yang saya dapatkan itulah ketidakmampuan diri memenuhi kebutuhan akan kekosongan hati akibat kurangnya rasa percaya diri dalam penerimaan diri sendiri dan kurangnya menghargai apa yang sesungguhnya telah kita miliki.

Begitukah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s