Memaafkan dan Melupakan

Ketika kita menghadapi satu perselisihan dengan orang lain siapapun itu seringkali kita dihadapkan pada pilihan akhirnya harus saling memaafkan. Apapun alasan kita harus memaafkan atau apapun kepentingannya dengan mengeluarkan kata maaf biasanya kita menganggap masalah sudah selesai. Mungkin iya benar juga sih. Tapi apakah kita pernah benar benar memaafkan tapi tidak melupakan? Coba renungkan lagi, berapa kali kita masih mengingat ingat masalah itu sebenarnya, meskipun hanya dalam hati atau bahkan menceritakan kepada orang lain. Bahwasanya kita tak pernah bisa melupakan perselisihan tersebut. Padahal bibir sudah terucap kata maaf.

Ibarat luka meskipun sudah sembuh dan tak terasa sakit tapi bekasnya tetaplah ada. Setiap melihat bekas goresannya pasti akan mengingat kembali kenapa luka itu bisa terjadi. Sangat manusiawi memang karena otak kita sudah merekam semua moment yang terjadi dalam kehidupan itu. Sekecil apapun itu pasti ada sedikit daya ingat yang tersimpan meskipun tak smeuanya persis sama lagi. Biasanya luka ini sering tetap terlihat jika kita masih bersama dengan orang yang berselisih dengan kita itu. Contoh paling dekat adalah pasangan kita sendiri, bukankah orang yang berpacaran bahkan pasangan suami istri justru lebih sering terlibat pertengkaran daripada orang yang jarang bertemu?

Saya pikir sih ini terkait dengan kesanggupan kita menghargai orang lain. JIka kita cukup bisa menghargai oranglain kesalahan apapun yang dia lakukan sepanjang kita sudah saling memaafkan takkan mungkin ada niat mengingat ingat kesalahan itu lagi apalagi sampai mengungit ungkit saat muncul masalah baru. Justru di sinilah sering terjadi apa yang dinamakan dengan api dalam sekam. Kelihatan memang seperti tak ada masalah lagi, nyatanya sedikit tersulut emosi saja bisa langsung terbakar. Kenapakah kita sulit melupakan padah sudah memaafkan, bukankan ini seyogyanya sepaket, memaafkan sekaligus melupakan?

Memang tidak gampang menghilangkan bekas luka begitu saja. Tapi ibarat kain yang sobek bekas jahitannya bisa ditambal dengan sulaman atau di tutup renda. Luka hati juga demikian supaya tak terus mengingat bisa dicoba dengan mencari kegiatan tambahan baru, atau mencari topik pembicaraan yang tak bersinggungan dengan masalah sebelumnya. Saya kira sih kalau dilatih terus lama lama akan terlupakan dengan sendiri. Sikap menjaid lebih dewasa bahkan bisa merubah satu masalah yang menyakitkan menjadi bahan yang bisa membuat kita tertawa di kemudian hari. Mengingat betapa kekanak kanakannya kita sehingga bisa terjadi perselisihan pada saat dulu itu. Salah satu proses pendeewaasan itu adalah masalah itu sendiri. Dan masalah itu taakn pernah usai, pasti akan datang silih berganti. Sehingga yang diperlukan adalah sikap atau respon kita pada masalah itu. Inilaha proses menuju kedewasaan.

Sangat menjengkelkan memang, saat kita sudah meminta maaf dan kita dimaafkan tapi orang tersebut masih mengungkitnya suatu ketika nanti. Menurut saya sih, sikap dewasa kitalah yang bisa mengatasi ini, dengan tidak terpancing secara emosional juga. Bahasa pasarannya yang waras ngalah aja deh, hehehehe

Meskipun memaafkan itu lebih mudah dari melupakan, tetapi kita tetap harus bisa melakukannya sekaligus, perlahan tapi pasti bisa, yang penting mau atau tidak, niat atau tidak. Tetap menjadi dewasa itu adalah pilihan di tangan kita. Apakah kita akan menjadi kanak kanak yang terperangkap di tubuh yang semakin menua, atau menjadi dewasa karena malu sama uban? Kita yang sendiri yang menentukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s