Galau

Galau

Akhir akhir ini kata galau sangat populer khususnya di media sosial. Galau itu sendiri berarti kondisi pikiran yang banyak dan sangat kusut sehingga bingung mana yang harus dikeluarkan terlebih dahulu. Tapi oleh kaum anak muda galau ini berubah menjadi kondisi atau suasana orang yang sedang patah hati, atau jomblo yang ditinggal pacar. Bingung mau lakuin apa. Semua serba salah, serba melowdan bawaannya pengen curhat mulu. Jadilah bertaburan curhatan curhatan di media sosial untuk mengungkapkan isi hati yang s edang galau ini, tentunya berharap ada orang yang akan bersimpati atau berempati.

Istilah galau ini juga ternyata menular ke media berita baik layar kaca maupun media cetak. Misalnya CR7 itu juga diberikatan galau terkait hubungan dengan kekasihnya atau kontraknya sebagai pemain y akan dibayar berapa? Para anggota dewan juga mendadak galau karena selalu mendapat sorotan dari masyarakat setiap study banding ke luar negeri. Presiden juga galau dan selalu hanya bisa prihatin melihat keadaan bangsa yang semakin terpuruk. Mendikbud jugagalau melihat terbitnya gambar Miyabi di LKS baru baru ini. Suami galau pada istrinya karena cemburu berlebihan, istri juga demikian galau melihat suami selingkuh. Anak sekolah galau melihat keadaan ekonomi orangtua yang semakin terpuruk. Pekerja galau gaji ga naik naik. Semua galau, dimana mana terjadi kegalauan. Gampang sekali virus galau ini menjangkiti siapa saja yang tak siap menghadapi perubahan.

Hal ini bisa kita lihat banyaknya tulisan tulisan d dinding media sosial yang ditorehkan secara bebas. Galau menjadi sebuah fenomena. Keknya kalau ga galau ga trendy, beuh…Sekali duakali baca tulisan orang galau mungkin akan mengundang simpatik, tapi kalau terus menerus akan bisa menjadi hal yang menjijikan, kok jadi manusia cengeng banget sih? Dikit dikit galau, galau kok dikit dikit? Kalau dikritik pasti akan di jawab ‘masalah buat lo’. Ini juga jawaban yang paling pamungkas dari anak abege jaman sekarang. Memang sih, kita tak bisa melarang atau mengatur kondisi hati seseorang. Apalagi ini katanya jaman bebas orang berekspresi, apa aja boleh…

Memang sih, mengeluarkan isi hati atau unek unek lebih baik daripada dipendam sendiri hati. Setidaknya untuk melegakan hati sendiri. Tapi pernahkah kira berpikir bahwa unek unek yang kita sampaikan dalam keadaan galau dan kondisi emosi yang labil bisa berefk negatif ke diri sendiri bhakna ke oranglain? Mungkin pada saat kita mencurahkan isi hati tak berasa kita mengeluarkan kata kata yang memuaskan bagi diri kita tapi berefek buruk bagi orang lain tanpa kita sadari. Kita baru memahami saat keadaan hati sudah normal, baru terpikir o iya ya kenapa gw nulis kek gitu ya? harusnya kan gw nulisnya begini, nah lo…

Di sinilah kita perlu mengelola hati kita kembali, mengelolanya dengan baik jangan sampai kegalauan kita menulari orang lain. Terlebih lagi kalau galau itu kita rubah menjadi hal yang positif misalnya dengan menuliskannya pada sebuah catatan. Saya pernah menuliskan kegalauan saya di dinding media sosial, tapi yang saya daptkan malah keterpurukan bukan pertolongan apalagi empati. Tak semua orang bisa memahami kondisi hati kita dan tak semua orang mau tahu dengan keadaan hati kita. Saya memilih merangkai kata kata untuk membuat galau saya terasa lebih indah di maknai. Setidaknya buat saya. Karena saat ini galau bukan saja meliputi soal isi pikiran, isi hati tetapi juga sudah sampai ke ranah emosi, bahlan mungkin nanti menjadi karakter, hadeuh….kalau yang ini saya hanya mengarang ngarang saja, karena saya sendiri tak tahu prosesnya giman, duh….kok gw jadi galau ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s